Studi Kasus Perempuan Bersifat Maskulin,Perempuan Inferior dan
Laki-Laki Superior
Kaum perempuan menjadi hal yang
penting dalam kehidupan masyarakat. Dimana perempuan masih saja menjadi bahan yang
ringan untuk diperbicarakan. Hal ini pun pasti
akan terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang mana pasti adanya tindakan superiortas
dari laki-laki dan perempuan yang akan jadi sasaran inferior yang kadang malah
tidak dirasakannya. Bagaimana sudah terlihat manusia tercipta
hanya menjadi dua jenis saja, yakni perempuan dan laki-laki. Nah,.. pada kajian
kali ini akan membahas tentang bagaimana perempuan dan laki-laki dilihat dalam
studi Feminisme. Ada tiga penjelasan yang akan menjadi isi dalam tulisan ini,
yaitu perempuan maskulin, perempuan inferior, dan laki-laki superior. Ketiga
penjelasan ini saya dapatkan dari pembicaraan saya kepada tiga sumber yang
bernama Melati, Jini, dan Jono (maaf nama saya samarkan).
Yang pertama kepada seorang perempuan yang memiliki sifat-sifat
laki-laki, tapi dalam hal ini lebih codong dengan mana tomboy. Kita sudah tahu
sendiri bagaimana pada umumnya seorang perempuan pasti akan mendapatkan sebuah
perlakuan orang tunya untuk belajar feminin. Perempuan harus berlaku sopan, berpakaian dengan anggun
layaknya perempuan yang lainnya. Pada perempuan ini dia saya sebut dengan nama
Melati, yang saya ajak ngobrol atau lebih tepatnya wawancara dengan pembahasan
yang kepada hal-hal maskulin yang menjadi studi disini. Melati ini adalah
seorang perempuan yang berada dalam keluarga yang bisa dikatakan kelas menengah
ke bawah. Dia anak nomer tiga dari empat bersaudara dan sejak kecil dia
memerima didikan keluarga yang baik. Tetapi dalam ksehariannya sesekali si
Melati ini dipakaikan atau di dandanin dengan pakaian laki-laki. Pernah juga
dia menuturkan bahwa pernah juga dipakaikan baju koko yang seharusnya digunakan
oleh laki-laki. Perlakuan tersebut ia dapatkan sejak masih kecil dan berimbas
pada sekarang. Orang tua si Melati ini tidak memberikan sepenuhnya atau
melakukan fasion yang harus berpenampilan feminin. Pada puncak rasa tomboy itu
pun berada pada semasa ia sekolah SMK. Tidak hanya itu saja, dari penuturan si
Melati bahwasanya ia juga lebih condong bersosialisasi dengan teman-teman
laki-laki. Hal ini terjadi semasa masih dalam lingkungan sekolah atau pun
lingkungan rumah. Dalam lambat launnya kira-kira si Melati ini mulai masuk
dalam ranah perkuliahan, gaya berpakaian yang digunakannya tak lagi sperti
laki-laki, tapi semakin ke busana yang feminin. Tetapi yang ditampakkan
hanyalah busananya saja,untuk sifat-sifatnya masih terdapat sifat laki-laki
yang mungkin membentuk kepribadiannya sejak kecil.
Dari apa yang saya tangkap tentang hasil bicara saya dengan si
Melati ini. Mungkin perilaku dan beberapa hal yang sudah dijelaskan diatas
lebih kepada teori Androgini. Dimana teori ini dijelaskan lebih kepada
penunjukan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin. Hal
ini berarti adanya percampuran dari ciri-cir maskulin dan feminn, baik dalam
pengertian gaya fashionnya atau keseimbangan anima dan animus dalam teori
psikoanalitis. Dalam arti lain pun sepengatahuan saya adalah orang yang tidak
bisa sepenuhnya cocok dengan peranan maskulin dan feminin yang di sandarkan
oleh masyarakat.
Yang kedua ini adalah kepada seorang kekasih yang juga teman saya
sendiri, yang mana saya beri nama Jini dan Jono meskipun pada saat ini mereka
sudah berpisah. Disini saya akan memberikan sedikit juga dari hasil analisa
saya setelah melakukan wawancara dengan orangnya. Awal mula saya mewawancarai
pada Jini yang menurut saya mengalami inferior yang dialaminya atas perlakuan
pacarnya. Jono dan Jini ini memulai hubungannya sejak pertama Si Jini masuk
pertama kuliah. Keadaan awal hubungan memanglah seperti sebuah bunga yang
sedang mekarnya, tetapi lambat laun hubungan itu semakin tidak lagi seperti
yang diharapkan. Seiring berjalannya waktu setelah hubungan Jini ini berjalan
kira-kira beberapa bulan, si Jini mulai mengalami keadaan yang disebut
inferior. Hal itu terjadi karena Jini merasakan adanya sebuah tekanan kepada
dirinya dari Jono yang sebagai seorang kekasihnya. Adanya sebuah harapan yang
diberikan Jono kepada Jini yang berdalih untuk membuat Jini semakin berfikiran
dewasa dengan adanya sebuah ancaman yang diterima Jini. Ancaman tersebut berupa
sebuah keputasan untuk mengakhiri hubungan pacaran tersebut, bila seandainya
harapan itu tidak terpenuhi. Disisi lain Jini melakukan upaya untuk
menghilangkan tekanan itu dengan cara melakukan pembicaraan pribadi antara
mereka berdua. Si Jini juga sempatnya melakukan upaya dengan cara mengikuti
keinginan si Jono, tetapi apalah daya Jini tersebut yang tetap dianggapnya
masih merasa kekanak-kanakan dengan rasa egois Jono. Tentunya pada akhirnya
kejadian yang mungkin tidak diharapkan itu pun terjadi, yakni berakhirnya hubungan
tersebut. Inferior mungkin jelas didapatkan oleh Jini atas perlakuan Jono ini,
tapi pertama kali mungkin opresi pasti akan dirasakan oleh Jini. Tetapi selama
beberapa hari berikutnya dan terus bertambah hari demi hari opresi yang
dirasakan oleh Jini mulai memudar meskipun masih adanya sebuah kenangan yang
mana kadang-kadang mengingatkannya.
Untuk selanjutnya pada Jono yang menjadi pasangan laki-lakinya,
yang mama menurut saya melakukan opresi dan bersifat superior. Tetapi dalam hal
ini hanya saja saya belum sempat bisa berbicara langsung dengan orangnya saya
sebut Jono ini. Sebenarnya Jono ini masih juga senbagai teman saya, tapi
kesulitan dalam bertemu dengannya membuat saya tidak bisa mendapatkan data yang
pasti untuk mengetahui sifat superior tersebut. Maka dari itu, mungkin akan
saya sampaikan apa yang saya dapatkan sedikit tentang si Jono ini. Hampir sama
dengan cerita sedikit Jini tadi, Jono sebagai seorang yang superior memiliki
sifat yang agak memaksakan kehendaknya dalam hubungan itu. Dalam hal itu yang
mungkin saya anggap dia memiliki sifat yang superior. Tekanan yang diberikan
Jono kepada Jini mungkin kebanyakan tidak dirasakan olehnya. Maksud dalam hal
ini, Jono atau pun laki-laki lain akan
beranggapan bahwa tidak merasa melakukan hal tekanan tersebtu. Hal ini
tidak memungkinkan saya harus bisa memberikan angapan itu benar, karena
kurangnya data analisa yang saya dapatkan.
Sedikit dari hasil analisis yang saya lakukan dengan penyampaian
seperti sebuah bahasa keseharian. Tekanan yang didapatkan perempuan kadang kala
akan berimbas pada kehidupan yang seterusanya dan begitupub pada laki-laki yang
superior. Saya juga meminta maaf kalau seandainya ada beberapa tulisan yang
tidak berkenan oleh pembaca dan khususnya narasumber sebagai orang yang saya
analisis. Trimakasih,...
No comments:
Post a Comment