Tuesday, April 19, 2016

Tugas UTS Mata “Kuliah Studi Feminisme”



Studi Kasus Perempuan Bersifat Maskulin,Perempuan Inferior dan Laki-Laki Superior


            Kaum perempuan menjadi hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Dimana perempuan masih saja menjadi bahan yang ringan untuk diperbicarakan. Hal ini pun pasti akan terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang mana pasti adanya tindakan superiortas dari laki-laki dan perempuan yang akan jadi sasaran inferior yang kadang malah tidak dirasakannya. Bagaimana sudah terlihat manusia tercipta hanya menjadi dua jenis saja, yakni perempuan dan laki-laki. Nah,.. pada kajian kali ini akan membahas tentang bagaimana perempuan dan laki-laki dilihat dalam studi Feminisme. Ada tiga penjelasan yang akan menjadi isi dalam tulisan ini, yaitu perempuan maskulin, perempuan inferior, dan laki-laki superior. Ketiga penjelasan ini saya dapatkan dari pembicaraan saya kepada tiga sumber yang bernama Melati, Jini, dan Jono (maaf nama saya samarkan).
Yang pertama kepada seorang perempuan yang memiliki sifat-sifat laki-laki, tapi dalam hal ini lebih codong dengan mana tomboy. Kita sudah tahu sendiri bagaimana pada umumnya seorang perempuan pasti akan mendapatkan sebuah perlakuan orang tunya untuk belajar feminin. Perempuan  harus berlaku sopan, berpakaian dengan anggun layaknya perempuan yang lainnya. Pada perempuan ini dia saya sebut dengan nama Melati, yang saya ajak ngobrol atau lebih tepatnya wawancara dengan pembahasan yang kepada hal-hal maskulin yang menjadi studi disini. Melati ini adalah seorang perempuan yang berada dalam keluarga yang bisa dikatakan kelas menengah ke bawah. Dia anak nomer tiga dari empat bersaudara dan sejak kecil dia memerima didikan keluarga yang baik. Tetapi dalam ksehariannya sesekali si Melati ini dipakaikan atau di dandanin dengan pakaian laki-laki. Pernah juga dia menuturkan bahwa pernah juga dipakaikan baju koko yang seharusnya digunakan oleh laki-laki. Perlakuan tersebut ia dapatkan sejak masih kecil dan berimbas pada sekarang. Orang tua si Melati ini tidak memberikan sepenuhnya atau melakukan fasion yang harus berpenampilan feminin. Pada puncak rasa tomboy itu pun berada pada semasa ia sekolah SMK. Tidak hanya itu saja, dari penuturan si Melati bahwasanya ia juga lebih condong bersosialisasi dengan teman-teman laki-laki. Hal ini terjadi semasa masih dalam lingkungan sekolah atau pun lingkungan rumah. Dalam lambat launnya kira-kira si Melati ini mulai masuk dalam ranah perkuliahan, gaya berpakaian yang digunakannya tak lagi sperti laki-laki, tapi semakin ke busana yang feminin. Tetapi yang ditampakkan hanyalah busananya saja,untuk sifat-sifatnya masih terdapat sifat laki-laki yang mungkin membentuk kepribadiannya sejak kecil.
Dari apa yang saya tangkap tentang hasil bicara saya dengan si Melati ini. Mungkin perilaku dan beberapa hal yang sudah dijelaskan diatas lebih kepada teori Androgini. Dimana teori ini dijelaskan lebih kepada penunjukan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin. Hal ini berarti adanya percampuran dari ciri-cir maskulin dan feminn, baik dalam pengertian gaya fashionnya atau keseimbangan anima dan animus dalam teori psikoanalitis. Dalam arti lain pun sepengatahuan saya adalah orang yang tidak bisa sepenuhnya cocok dengan peranan maskulin dan feminin yang di sandarkan oleh masyarakat.
Yang kedua ini adalah kepada seorang kekasih yang juga teman saya sendiri, yang mana saya beri nama Jini dan Jono meskipun pada saat ini mereka sudah berpisah. Disini saya akan memberikan sedikit juga dari hasil analisa saya setelah melakukan wawancara dengan orangnya. Awal mula saya mewawancarai pada Jini yang menurut saya mengalami inferior yang dialaminya atas perlakuan pacarnya. Jono dan Jini ini memulai hubungannya sejak pertama Si Jini masuk pertama kuliah. Keadaan awal hubungan memanglah seperti sebuah bunga yang sedang mekarnya, tetapi lambat laun hubungan itu semakin tidak lagi seperti yang diharapkan. Seiring berjalannya waktu setelah hubungan Jini ini berjalan kira-kira beberapa bulan, si Jini mulai mengalami keadaan yang disebut inferior. Hal itu terjadi karena Jini merasakan adanya sebuah tekanan kepada dirinya dari Jono yang sebagai seorang kekasihnya. Adanya sebuah harapan yang diberikan Jono kepada Jini yang berdalih untuk membuat Jini semakin berfikiran dewasa dengan adanya sebuah ancaman yang diterima Jini. Ancaman tersebut berupa sebuah keputasan untuk mengakhiri hubungan pacaran tersebut, bila seandainya harapan itu tidak terpenuhi. Disisi lain Jini melakukan upaya untuk menghilangkan tekanan itu dengan cara melakukan pembicaraan pribadi antara mereka berdua. Si Jini juga sempatnya melakukan upaya dengan cara mengikuti keinginan si Jono, tetapi apalah daya Jini tersebut yang tetap dianggapnya masih merasa kekanak-kanakan dengan rasa egois Jono. Tentunya pada akhirnya kejadian yang mungkin tidak diharapkan itu pun terjadi, yakni berakhirnya hubungan tersebut. Inferior mungkin jelas didapatkan oleh Jini atas perlakuan Jono ini, tapi pertama kali mungkin opresi pasti akan dirasakan oleh Jini. Tetapi selama beberapa hari berikutnya dan terus bertambah hari demi hari opresi yang dirasakan oleh Jini mulai memudar meskipun masih adanya sebuah kenangan yang mana kadang-kadang mengingatkannya.
Untuk selanjutnya pada Jono yang menjadi pasangan laki-lakinya, yang mama menurut saya melakukan opresi dan bersifat superior. Tetapi dalam hal ini hanya saja saya belum sempat bisa berbicara langsung dengan orangnya saya sebut Jono ini. Sebenarnya Jono ini masih juga senbagai teman saya, tapi kesulitan dalam bertemu dengannya membuat saya tidak bisa mendapatkan data yang pasti untuk mengetahui sifat superior tersebut. Maka dari itu, mungkin akan saya sampaikan apa yang saya dapatkan sedikit tentang si Jono ini. Hampir sama dengan cerita sedikit Jini tadi, Jono sebagai seorang yang superior memiliki sifat yang agak memaksakan kehendaknya dalam hubungan itu. Dalam hal itu yang mungkin saya anggap dia memiliki sifat yang superior. Tekanan yang diberikan Jono kepada Jini mungkin kebanyakan tidak dirasakan olehnya. Maksud dalam hal ini, Jono atau pun laki-laki lain akan  beranggapan bahwa tidak merasa melakukan hal tekanan tersebtu. Hal ini tidak memungkinkan saya harus bisa memberikan angapan itu benar, karena kurangnya data analisa yang saya dapatkan.
Sedikit dari hasil analisis yang saya lakukan dengan penyampaian seperti sebuah bahasa keseharian. Tekanan yang didapatkan perempuan kadang kala akan berimbas pada kehidupan yang seterusanya dan begitupub pada laki-laki yang superior. Saya juga meminta maaf kalau seandainya ada beberapa tulisan yang tidak berkenan oleh pembaca dan khususnya narasumber sebagai orang yang saya analisis. Trimakasih,...

No comments:

Post a Comment

Apa Itu Santri ???

22 Oktober menjadi salah satu tanggal dalam pengkalenderan masehi, yang mana dijadikan sebagai peringatan “Hari Santri Nasioanal”. Mung...