Motor menjadi
salah satu aset kendaraan yang begtiu mayoritas dikalangan masyarakat. Kendaraan
ini mungkin bisa dikatakan transportasi yang praktis, bahkan pada setiap rumah
pasti memiliki satu motor atau lebih. Tidak juga memerlukan waktu yang lama,
karena mampu melewati jalan-jalan yang sempit seperti gang dan lainnya. Bahkan
bisa kita lihat sendiri bagaimana banyaknya orang Indonesia yang menggunakan
motor. Indonesia sendiri menjadi pengguna dan konsumen terbanyak dalam
transportasi ini, terkhususnya pun pada Pulau Jawa yang sudah mencapai 50%
lebih dari presentase seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana kendaraan
tersebut akan menimbulkan kemancetan disetiap sudut kota.
Banyak sekali
orang yang menggunakan motore untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti halnya
untuk berangkat kerja, para siswa yang menggunakannya untuk berangkat sekolah,
bahkan anak-anak kecil sekarang pun sudah banyak yang bisa berkendara sepeda
motor. Beberapa hal yang masih saya sayangkan banyak sekali anak-anak yang
masih tergolong bersekolah di SD sudah bisa berkendara motor dengan leluasa. Ketidaktahuan
orang tua dalam mendidik anak dan membiarkan membiarkan anak mengendarai motor
dijalan raya dengan bebas yang akan menimbulkan hal yang suatu saat bisa
terjadi. Anak belajar motor dengan bebas, malah kadang kala orang ada yang
mendukung dengan mengajari anaknya belajar bersepeda motor.
Mengingat tentang belajar
untuk mengendarai sepeda motor, ada beberapa peristiwa tatkala saya pertama kalinya
belajar mengendarai motor. Ketika saat itu, dimana saya belajar bermotor
membuatku merasa bodoh dan tersenyum sendiri membayangkan saat motor itu
melaju, bagaimana saya terjatuh dan sok menjadi pembalap seperti Valentino
Rossi (dia penggemarku di Moto GP). Tetapi dulu waktu saya belajar motor tidak
pada jenjang umur anak-anak SD, melainkan sudah menginjak SMP dan itupun pada
akhir kelas 2.
Keinginan saya untuk
belajar motor sebenarnya sudah sangat lama dan itupun ibuku sudah memberikan
lampu hijau memperbolehkan untuk berkendara sendiri. Tapi keinginan itu agak
terkendala karena keberadaanku yang pada saat itu belajar menuntut ilmu di
lingkungan pondok pesantren. Akhirnya pada saat di pondok saya hanya
berangan-angan mempelajari bagaimana teori mengendarai motor dan menunggu kapan
saya pulang kerumah serta memulai belajar motor. Saat yang ditunggu pun datang,
ketika pada saat bulan sebelum semester genap, akhirnya saya bisa pulang,
meskipun itu hanya dua hari saja. Motor Supra X 125 yang menjadi kendaraan
ibuku kemana-mana adalah kendaraan yang saya pakai untuk belajar berkendara.
Tetapi karena waktu dulu saya masih agak menjinjitkan kaki ketika menaiki motor
tersebut. Akhirnya motor Grand Astra milik paman yang pada saat itu berkunjung
ke rumahku. Karena motor tesebut lebih pendek setelah ada modifikasi yang
dilakukan oleh paman.
Belajar pun aku mulai,
motor aku tuntun menuju pelataran jalan depan rumahku dan langsung menyalakan
mesin motor. Intruksi pun tak lupa diberikan oleh ibuku yang pada saat itu
sedang bersantar duduk di kursi emperan depan rumah. Ibuku menyuruh untuk
memasukkan presneling gigi motor ke urutan pertama dan menarik gas motor secara
perlahan demi perlahan. Deru suara motor mulai meninggi, roda pun mulai
berputar dan semakin melajunya motor kedepan beranjak dari tempatnya semula.
Belum juga motor tersebut melaju sampai lima meter, keseimbanganku agak
tergoyahkan dan membuatku harus berhenti mendadak. Akhirnya aku mengulangi lagi
dengan tenang serta kembali menarik gas motor secara perlahan-lahan. Motor
bebek itu pun melaju dengan perlahan dan disertai suara motor yang semakin
menderu tatkala gas motor aku tarik. Maklum saja aku masih belum begitu berani
untuk menambah presneling gigi kedua agar lebih melaju dengan kencang. Tikungan
pun aku lalui sampai pada ujung jalan dekat sungai arah barat dari rumahku.
Dari situ aku memutar motor dan kembali lagi melaju menuju rumah hampir beberapa kali putaran bolak-balik. Setelah
agak puas, motor pun aku parkirkan di depan rumah dengan wajah sumringah karena
aku sudah bisa menaiki motor, meski dengan car otodidak pula.
Pada hari berikutnya sebelum saya
kembali ke pondok disore harinya, si motor bebek hitam Supra X 125 menjadi
tungganganku untuk belajar dihari kedua ini. Meski tetap agak berjinjit, motor
supra tersebut saya stater, masuk ke gigi satu, dan meluncur hari kemaren. Jalur yang berbeda
menjadi pacuan saya untuk belajar bermotor, yakni jalan lurus disamping sungai
yang berlebar sekitar 3 meter dan panjang kurang lebih 200 meter. Masih saja
dengan suara motor menderu bergigi satu, serta berbolak-balik dari ujung jalan
utara sampai selatan. Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menambahgigi
presneling ke urutan kedua, meskipun masih keliatan kaku. Tak lama pun, saya
kembali pulang dan mempersiapkan diri lagi untuk kembali ke pondok pesantren.
Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena harus menghentikan belajar berkendara
saya. Tetapi kekecewaan tersebut sedikit terobati karena setelah ujian semester
akan kembali pulang untuk liburan. Disini emang apa yang saya alami memang
secara otodidak, belajar mengendarai motor tanpa ada yang mendampingi.
Semester genap sudah berlalu dan liburan semester
semakin dekat untuk saya dan teman-teman santri lainnya untuk pulang.
Kesempatan ini pun pasti akan saya manfaatkan untuk kembali belajar berkendara
motor lagi. Beberapa hari berikut saya pun tetap dengan menunggangi motor bebek
hitam dengan jalur yang tetap pula, yakni jalan di samping sungai tadi. Tetap
juga berbolak-balik bagaikan sedang menyetrika baju, tapi disini saya lebih
menjajal dalam rute yang lain. Jalan di persawahan dan jalan samping
rumah-rumah tetanggaku menjadi rute pembelajaranku. Kadang kala saya merasa bak
seorang pembalap profesional yang sedang melaju kencang di sirkuit medan laga
balap. Tetapi disini saya berkecepatan yang masih tetap melaju dengan kecepatan
yang rendah saja.
Nah,.. Ada hal yang lucu dan membuat saya
sangat malu disaat saya belajar motor di jalan persawahan. Saat itu dengan rute
yang sama pada jalan persawahan, dekat dengan sawah milik kakek saya. Ada
beberapa orang yang sedang memompa air dengan mesin diesel, dan itu pun
ternyata sebagian adalah tetangga saya sendiri. Pada saat itu ada banyak air
yang keluar dan mengalir dijalan yang akan saya lewatin. Saya berhenti sejenak
sebelum melewati genangan air tersebut. Ada salah satu orang yang memberikan
arahan untuk melewati jalan pas ditengahnya. Perasaan saya menjadi agak was-was
ketika mau melewati genangan yang lumayan cukup panjang.
Akhirnya dengan pelan-pelan saya menjalankan motor saya dan saya malah lebih
memilih untuk melewati jalan yang berada di samping. Dengan pelan- pelan motor
pun semakin meleweti genangan tersebut, tetapi hampir saja genengan itu saya
lalui, tanpa saya ketahui ban sepeda depan sepeda motor sedikit terpeleset.
Gubrak,.. byurrr,... sawah yang ada dipinggir jalan, yang mana baru saja
ditanamin, menjadi tempat mendaratku yang empuk. Aku terjatuh mendarat dilumpur
sawah dengan posisi seperti orang yang sedang merangkak, untungnya saja baju
yang saya kenakan tidak terlalu terkena lumpur. Orang-orang yang ada disekitar
situ langsung spontan menolong saya dan dengan sedikit tertawa dengan ulah saya
yang terjadi itu. Dengan muka agak sedikit malu karena menjadi bahan tertawaan
orang-orang disitu. Motorku banyak terkena lumpur dan langsung dibersihkan oleh
tetangga saya yang mendirikan motor saya yang terguling tadi. Padi-padi yang
ambruk tertimpa olehku langsung dibenahi dan ditata kembali. Dengan perasaan
yang masih malu motor aku nyalakan dan langsung pergi melalui jalan yang
memutar. Melihat motor ku yang masih kotor, serta ada sedikit rasa takut
jikalau nanti sampai rumah lansung dimarahi oleh ibu saya. Sebelum sampai
rumah, tepatnya di sungai yang biasa jalan disampingnya menjadi tempatku
berlatih. Motor langsung aku turunkan ke sungai dan langsung ku bilas
bagian-bagian yang kotor. Setelah bersih, aku langsung pulang dengan perasaan
yang begitu was-was.
Sampai rumah ibu saya agak terheran,
karena sesampainya di rumah motor dalam keadaan basah dan tentunya bersih. Ibu
pun bertanya kepadaku “motornya kok jadi bersih, baru saja kok cuci tha,..”
begitu ujarnya. Aku pun langsung menjawabnya “iya,.. tak cuci nek sungai”.
Dengan masih menunggu apa yang akan dijawab ibu, dan ternyata ibu hanya
berguman saja. Aku pun merasa tenang karena ibu tidak tahu apa yang baru saja
terjadi dengan diriku, tetapi saya tidak tahu kalo mungkin ibu saya tahu juga
dari penuturan orang yang ada ditempat kejadian perkara. Sampai sekarang pun
saya masih mengangan-angan apakah ibu saya mengetahui kejadian itu. Dan dari
kejadian itu saya sekarang lebih hati-hati apabila mengendarai motor.

Waktu pun terus berlalu dan pada sampai
saya kuliah kendaraan dirumah saya bertambah satu, yang mana menjadi
kendaraanku untuk kuliah. Motor itu saya juluki “Si Merah Putih” yakni Merah
adalah motor Vario 125 merah dan helm putih INK. Motor dan helm tersebut yang
selalu menemani saya kemana-mana, dari travelling, main ke rumah temen, kuliah,
menghadiri acra, dan lainya. Itu tentang pengalaman saya diwaktu dulu, mungkin
sedikit agak lucu atau mungkin menghibur. Tetapi emang itu adalah kenyataan
yang saya alami dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman yang
ingin belajar, meskipun harus jatuh dan menahan malu.
No comments:
Post a Comment