Thursday, April 7, 2016

Aku dan Motor


Motor menjadi salah satu aset kendaraan yang begtiu mayoritas dikalangan masyarakat. Kendaraan ini mungkin bisa dikatakan transportasi yang praktis, bahkan pada setiap rumah pasti memiliki satu motor atau lebih. Tidak juga memerlukan waktu yang lama, karena mampu melewati jalan-jalan yang sempit seperti gang dan lainnya. Bahkan bisa kita lihat sendiri bagaimana banyaknya orang Indonesia yang menggunakan motor. Indonesia sendiri menjadi pengguna dan konsumen terbanyak dalam transportasi ini, terkhususnya pun pada Pulau Jawa yang sudah mencapai 50% lebih dari presentase seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana kendaraan tersebut akan menimbulkan kemancetan disetiap sudut kota.
Banyak sekali orang yang menggunakan motore untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti halnya untuk berangkat kerja, para siswa yang menggunakannya untuk berangkat sekolah, bahkan anak-anak kecil sekarang pun sudah banyak yang bisa berkendara sepeda motor. Beberapa hal yang masih saya sayangkan banyak sekali anak-anak yang masih tergolong bersekolah di SD sudah bisa berkendara motor dengan leluasa. Ketidaktahuan orang tua dalam mendidik anak dan membiarkan membiarkan anak mengendarai motor dijalan raya dengan bebas yang akan menimbulkan hal yang suatu saat bisa terjadi. Anak belajar motor dengan bebas, malah kadang kala orang ada yang mendukung dengan mengajari anaknya belajar bersepeda motor.
Mengingat tentang belajar untuk mengendarai sepeda motor, ada beberapa peristiwa tatkala saya pertama kalinya belajar mengendarai motor. Ketika saat itu, dimana saya belajar bermotor membuatku merasa bodoh dan tersenyum sendiri membayangkan saat motor itu melaju, bagaimana saya terjatuh dan sok menjadi pembalap seperti Valentino Rossi (dia penggemarku di Moto GP). Tetapi dulu waktu saya belajar motor tidak pada jenjang umur anak-anak SD, melainkan sudah menginjak SMP dan itupun pada akhir kelas 2.
Keinginan saya untuk belajar motor sebenarnya sudah sangat lama dan itupun ibuku sudah memberikan lampu hijau memperbolehkan untuk berkendara sendiri. Tapi keinginan itu agak terkendala karena keberadaanku yang pada saat itu belajar menuntut ilmu di lingkungan pondok pesantren. Akhirnya pada saat di pondok saya hanya berangan-angan mempelajari bagaimana teori mengendarai motor dan menunggu kapan saya pulang kerumah serta memulai belajar motor. Saat yang ditunggu pun datang, ketika pada saat bulan sebelum semester genap, akhirnya saya bisa pulang, meskipun itu hanya dua hari saja. Motor Supra X 125 yang menjadi kendaraan ibuku kemana-mana adalah kendaraan yang saya pakai untuk belajar berkendara. Tetapi karena waktu dulu saya masih agak menjinjitkan kaki ketika menaiki motor tersebut. Akhirnya motor Grand Astra milik paman yang pada saat itu berkunjung ke rumahku. Karena motor tesebut lebih pendek setelah ada modifikasi yang dilakukan oleh paman.
Belajar pun aku mulai, motor aku tuntun menuju pelataran jalan depan rumahku dan langsung menyalakan mesin motor. Intruksi pun tak lupa diberikan oleh ibuku yang pada saat itu sedang bersantar duduk di kursi emperan depan rumah. Ibuku menyuruh untuk memasukkan presneling gigi motor ke urutan pertama dan menarik gas motor secara perlahan demi perlahan. Deru suara motor mulai meninggi, roda pun mulai berputar dan semakin melajunya motor kedepan beranjak dari tempatnya semula. Belum juga motor tersebut melaju sampai lima meter, keseimbanganku agak tergoyahkan dan membuatku harus berhenti mendadak. Akhirnya aku mengulangi lagi dengan tenang serta kembali menarik gas motor secara perlahan-lahan. Motor bebek itu pun melaju dengan perlahan dan disertai suara motor yang semakin menderu tatkala gas motor aku tarik. Maklum saja aku masih belum begitu berani untuk menambah presneling gigi kedua agar lebih melaju dengan kencang. Tikungan pun aku lalui sampai pada ujung jalan dekat sungai arah barat dari rumahku. Dari situ aku memutar motor dan kembali lagi melaju menuju rumah hampir  beberapa kali putaran bolak-balik. Setelah agak puas, motor pun aku parkirkan di depan rumah dengan wajah sumringah karena aku sudah bisa menaiki motor, meski dengan car otodidak pula.
Pada hari berikutnya sebelum saya kembali ke pondok disore harinya, si motor bebek hitam Supra X 125 menjadi tungganganku untuk belajar dihari kedua ini. Meski tetap agak berjinjit, motor supra tersebut saya stater, masuk ke gigi satu, dan  meluncur hari kemaren. Jalur yang berbeda menjadi pacuan saya untuk belajar bermotor, yakni jalan lurus disamping sungai yang berlebar sekitar 3 meter dan panjang kurang lebih 200 meter. Masih saja dengan suara motor menderu bergigi satu, serta berbolak-balik dari ujung jalan utara sampai selatan. Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menambahgigi presneling ke urutan kedua, meskipun masih keliatan kaku. Tak lama pun, saya kembali pulang dan mempersiapkan diri lagi untuk kembali ke pondok pesantren. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena harus menghentikan belajar berkendara saya. Tetapi kekecewaan tersebut sedikit terobati karena setelah ujian semester akan kembali pulang untuk liburan. Disini emang apa yang saya alami memang secara otodidak, belajar mengendarai motor tanpa ada yang mendampingi.
Semester genap sudah berlalu dan liburan semester semakin dekat untuk saya dan teman-teman santri lainnya untuk pulang. Kesempatan ini pun pasti akan saya manfaatkan untuk kembali belajar berkendara motor lagi. Beberapa hari berikut saya pun tetap dengan menunggangi motor bebek hitam dengan jalur yang tetap pula, yakni jalan di samping sungai tadi. Tetap juga berbolak-balik bagaikan sedang menyetrika baju, tapi disini saya lebih menjajal dalam rute yang lain. Jalan di persawahan dan jalan samping rumah-rumah tetanggaku menjadi rute pembelajaranku. Kadang kala saya merasa bak seorang pembalap profesional yang sedang melaju kencang di sirkuit medan laga balap. Tetapi disini saya berkecepatan yang masih tetap melaju dengan kecepatan yang rendah saja.
Nah,.. Ada hal yang lucu dan membuat saya sangat malu disaat saya belajar motor di jalan persawahan. Saat itu dengan rute yang sama pada jalan persawahan, dekat dengan sawah milik kakek saya. Ada beberapa orang yang sedang memompa air dengan mesin diesel, dan itu pun ternyata sebagian adalah tetangga saya sendiri. Pada saat itu ada banyak air yang keluar dan mengalir dijalan yang akan saya lewatin. Saya berhenti sejenak sebelum melewati genangan air tersebut. Ada salah satu orang yang memberikan arahan untuk melewati jalan pas ditengahnya. Perasaan saya menjadi agak was-was ketika mau melewati genangan yang lumayan cukup panjang. Akhirnya dengan pelan-pelan saya menjalankan motor saya dan saya malah lebih memilih untuk melewati jalan yang berada di samping. Dengan pelan- pelan motor pun semakin meleweti genangan tersebut, tetapi hampir saja genengan itu saya lalui, tanpa saya ketahui ban sepeda depan sepeda motor sedikit terpeleset. Gubrak,.. byurrr,... sawah yang ada dipinggir jalan, yang mana baru saja ditanamin, menjadi tempat mendaratku yang empuk. Aku terjatuh mendarat dilumpur sawah dengan posisi seperti orang yang sedang merangkak, untungnya saja baju yang saya kenakan tidak terlalu terkena lumpur. Orang-orang yang ada disekitar situ langsung spontan menolong saya dan dengan sedikit tertawa dengan ulah saya yang terjadi itu. Dengan muka agak sedikit malu karena menjadi bahan tertawaan orang-orang disitu. Motorku banyak terkena lumpur dan langsung dibersihkan oleh tetangga saya yang mendirikan motor saya yang terguling tadi. Padi-padi yang ambruk tertimpa olehku langsung dibenahi dan ditata kembali. Dengan perasaan yang masih malu motor aku nyalakan dan langsung pergi melalui jalan yang memutar. Melihat motor ku yang masih kotor, serta ada sedikit rasa takut jikalau nanti sampai rumah lansung dimarahi oleh ibu saya. Sebelum sampai rumah, tepatnya di sungai yang biasa jalan disampingnya menjadi tempatku berlatih. Motor langsung aku turunkan ke sungai dan langsung ku bilas bagian-bagian yang kotor. Setelah bersih, aku langsung pulang dengan perasaan yang begitu was-was.
Sampai rumah ibu saya agak terheran, karena sesampainya di rumah motor dalam keadaan basah dan tentunya bersih. Ibu pun bertanya kepadaku “motornya kok jadi bersih, baru saja kok cuci tha,..” begitu ujarnya. Aku pun langsung menjawabnya “iya,.. tak cuci nek sungai”. Dengan masih menunggu apa yang akan dijawab ibu, dan ternyata ibu hanya berguman saja. Aku pun merasa tenang karena ibu tidak tahu apa yang baru saja terjadi dengan diriku, tetapi saya tidak tahu kalo mungkin ibu saya tahu juga dari penuturan orang yang ada ditempat kejadian perkara. Sampai sekarang pun saya masih mengangan-angan apakah ibu saya mengetahui kejadian itu. Dan dari kejadian itu saya sekarang lebih hati-hati apabila mengendarai motor.

Waktu pun terus berlalu dan pada sampai saya kuliah kendaraan dirumah saya bertambah satu, yang mana menjadi kendaraanku untuk kuliah. Motor itu saya juluki “Si Merah Putih” yakni Merah adalah motor Vario 125 merah dan helm putih INK. Motor dan helm tersebut yang selalu menemani saya kemana-mana, dari travelling, main ke rumah temen, kuliah, menghadiri acra, dan lainya. Itu tentang pengalaman saya diwaktu dulu, mungkin sedikit agak lucu atau mungkin menghibur. Tetapi emang itu adalah kenyataan yang saya alami dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman yang ingin belajar, meskipun harus jatuh dan menahan malu.

No comments:

Post a Comment

Apa Itu Santri ???

22 Oktober menjadi salah satu tanggal dalam pengkalenderan masehi, yang mana dijadikan sebagai peringatan “Hari Santri Nasioanal”. Mung...