Resum
buku “ Metode Etnografi”
James
P. Spradley
Subbab
: langkah dua belas” menulis sebuah etnografi”
Tujuan :
1. Untuk
memahami sifat dasar penulisan etnografi sebagai proses dari penerjemahan.
2. Untuk
mengidentifikasikan tahap-tahap yang berbeda dalam penulisan etnografi.
3. Untuk
mengidentifikasikan langkah-langkah dalam menuliskan sebuah etnografi.
4. Untuk
menulis sebuah etnografi.
Empat poin di
atas adalah beberapa tujuan dalam menulis etnografi. Banyak sekali seorang
etnografer mendorong dirinya pada suatu kesadaran penuh bahwa suatu sistem
makna budaya tertentu harus benar-benar lengkap dalam menulis etnografi. Dalam
proses penulisan hitam menemukan suatu sumber pengetahuan yang tersembunyi yang
didapatkan selama proses penelitian. Sebagaimana ditegaskan oleh sebagian besar
penulis profesional, satu-satunya jalan
untuk belajar menulis adalah dengan menulis. Salah satu jalan terbaik untuk
menulis sebuah etnografi adalah dengan membaca etnografi lain. Karena dengan
membaca etnografi lain akan membuat tulisan yang anda buat menjadi baik tanpa
upaya yang anda sadari. Setiap etnografer bahkan dapat mengidentifikasi
buku-buku dan artikel yang merupakan deskripsi budaya yang ditulis dengan baik.
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasikan tulisan yang menerjemahkan makna
makna suatu budaya asing sehingga seseorang yang tidak mengenal etnografi akan
mengetahui makna-makna ini tetapi yang harus diingat oleh penulis bahwa cara
untuk belajar menulis sebuah etnografi adalah menulis etnografi.
Proses
Penerjemahan
Penerjemahan
meliputi keseluruhan proses penemuan makna suatu kebudayaan untuk disampaikan
ke orang dalam budaya lain.Seorang etnografer mempunyai tugas ganda dalam hal
ini. Pada tugas pertama Anda harus masuk ke dalam suasana budaya yang ingin diketahui,
memasuki bahasa dan pemikiran informan, serta menjadikan simbol-simbol dan
makna mereka dalam bahasa sendiri. Strategi tersebut menjadi sangat kuat untuk
mempelajari bahasa dan budaya lain. Tugas kedua dari penerjemahan etnografis
adalah menyampaikan makna budaya yang telah anda ketemukan kepada para pembaca
yang tidak mengenal budaya atau suasana budaya itu.Ada tuntutan yang harus
dilakukan oleh penerjemah mengenal dua
kebudayaan satu kebudayaan itu dideskripsikan dan kebudayaan yang lain itu
dideskripsikan dan kebudayaan yang lain dipegang secara tersirat oleh khalayak
yang akan membaca Deskripsi tersebut. Kebanyakan para etnografer yang terampil
gagal dalam menyelesaikan karya penerjemahan etnografis itu. Karena mereka menulis etnografis tanpa ada
waktu untuk mempelajari berbagai keahlian dalam komunikasi tertulis. Tanpa
memahami kalayaknya, bahkan tanpa
merasakan pentingnya komunikasi dengan cara yang menghidupkan kebudayaan itu.
Beberapa Tahapan Dalam Penulisan
Etnografi.
Setiap
etnografrer berhadapan dengan berbagai peristiwa kemanusiaan yang paling
spesifik konkret dan juga paling umum. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial.
Perhatian dalam hal-hal khusus ada
hubungannya dengan suatu pemahaman terhadap suatu etnografer sesuatu yang umum.
Tetapi ketika prinsip ini dimasukkan seluruhnya ke dalam pelaksanaan etnografi
maka akan menciptakan parodi proses penerjemahan. Dalam penulisan sebuah sebuah
etnografi sebagai sebuah penerjemahan. Perhatian terhadap hal yang umum ada
hubungannya dengan pemahaman mengenai hal yang khusus. Agar pembaca melihat
kehidupan orang-orang yang dipelajari seperti mereka melihat diri mereka
sendiri. Terdapat enam tahapan yang berbeda yang dapat diidentifikasi ketika
bergerak dari hal umum ke khusus.
Ø Tahap
Satu : Statemen-Statemen Universal.
Statemen ini
meliputi semua statemen mengenai umat manusia. Tingkah laku mereka kebudayaan
mereka atau situasi lingkungan mereka. Statemen ini adalah statemen –statemen
yang mencakup semua.
Ø Tahap
Kedua : Statemen-Statemen Deskriptif Lintas Budaya.
Tahapan
abstraksi kedua meliputi statemen-statemen mengenai dua masyarakat atau lebih.
Statemen dalam tahap abstraksi ini meliputi berbagai penegasan yang luas
menurut beberapa masyarakat tetapi tidak harus untuk semua masyakat. Statemen
deskriptif lintas budaya membantu dalam menempatkan suatu suasana budaya dalam
gambaran budaya manusia lebih luas.
Ø Tahap
Ketiga: Statemen Umum Mengenai Suatu Masyarakat Atau Kelompok Budaya.
Jenis statemen
ini tampak spesifik tetapi sebenarnya masih sangat umum yang dimaksud spesifik
yakni lebih spesifik dalam salah satu budaya atau kelompok.
Ø Tahap
Keempat : Statemen Umum Mengenai Suatu Susunan Budaya Yang Spesifik
Ketika kita
menuliskan suatu tahapan abstraksi kita mencatat banyak statemen mengenai
budaya. Tetapi walaupun statemen itu merujuk pada suasana atau kelompok yang
spesifik tetapi sifatnya masih umum.
Ø Tahap
Kelima : Statemen Spesifik Mengenai Sebuah Domain Budaya.
Pada tahap ini
etnografer mulai menggunakan berbagai istilah asli informan dan berbagai kontras spesifik yang didapat dari informan.
Ø Tahap
Keenam : Statemen Insiden Spesifik.
Tahapan
enam ini mengantarkan pembaca segera pada tahap aktual tingkah laku dan objek
tahap pemahaman berbagai hal itu.
Penulisan
etnografis memuat statemen-statemen pada enam tahapan dari yang umum ke yang
khusus, tapi dalam pengerjaannya dengan suatu proporsi tertentu. Jurnal-jurnal
profesional yang didalamnya penulis terutama menulis untuk rekan seprofesinya.
Cenderung berisi statemen pada tahap satu dan dua. Beberapa tulisan etnografis
yang lain, baik yang berbentuk artikel makalah atau buku. Menggunakan gaya
formal dengan memakai tahap tiga dan empat. Disertasi dan tesis kebanyakan
ditulis pada tahap ini. Walaupun dalam hal itu juga banyak informasi pada tahap
lima. Tulisan dalam bentuk ini cenderung menyajikan tulang yang terbuka, yang
tidak dibungkus contoh dan peristiwa pada tahap enam. Di lain pihak beberapa
novel etnografis dan tulisan pribadi yang bersifat etnografis penuh berisikan
statemen tahap enam dengan beberapa statemen tahap lima. Jelas pula bahwa
pencampuran berbagai tahap dalam suatu proposisi yang dikehendaki tergantung
pada tujuan etnografer. Maka dari itu masing-masing etnografer harus menentukan
khalayak yang dituju karena penelitian etnografis mempunyai nilai penting bagi
semua orang dan oleh karena itu etnografer harus menulis untuk mereka yang
berada di luar dunia akademik.
LANGKAH
LANGKAH MENULIS ETNOGRAFI.
Langkah
menulis dalam hal ini menekankan pada metode alur penelitian maju bertahap
dalam penelitian merupakan pemecahan sebuah tugas besar menjadi tugas-tugas
yang lebih unik dan membuat tugas ini sebagai suatu unit yang akan
menyederhanakan pekerjaan itu serta memperbaiki kinerja seseorang.
Langkah-langkah tersebut adalah :
1.
Memilih khalayak.
Penulis
perlu memilih khalayak dan mengidentifikasikannya secara jelas dan selama
penulis terus mengingat siapa khalayak itu. Ini menjadi lengkap pertama yang
harus dilakukan etnografer.
2. Memilih
tesis.
Tesis
adalah sebuah pesan utama yang mana merupakan suatu yang ingin anda buat. Ada
beberap sumber untuk menemukan sebuah tesis.
a. Tema-tema
besar yang telah anda temukan dalam penelitian etnografis merupakan tesis-tesis
yang mungkin.
b. Sebuah
tesis untuk etnografis anda mungkin berasal dari seluruh tujuan etnografi.
c. Sebuah
tesis dapat berasal dari literatur ilmu-ilmu sosial. Ketika tesis dipilih
sangat baik jika ditegaskan secara singkat mungkin dalam satu kalimat tunggal
dan tempatkan tesis itu dihadapan anda sebagai pengingat ketika menulis.
3. Membuat
sebuah daftar topik dan membuat sebuah garis besar langkah.
Tiga
melibatkan peninjauan kembali catatan-catatan lapangan. Serta inventaris budaya
yang telah dibuat dan juga daftar topik yang dianggap harus di masukkan ke
dalam deskripsi akhir.
4. Menulis
naskah kasar untuk masing-masing bagian.
Sebuah
naskah kasar dimaksudkan untuk sebuah naskah yang masih kasar belum selesai dan
belum dipoles. Menulislah seperti anda berbicara merupakan aturan yang sangat
baik untuk diikuti dalam menyusun sebuah naskah kasar untuk masing-masing
bagian.
5. Merevisi
garis besar dan membuat anak judul.
Jika
naskah kasar telah selesai dibuat untuk masing-masing bagian, baik sekali untuk
membuat sebuah garis baru. Yakni mungkin menggunakan sub-sub judul untuk
memberikan petunjuk kepada pembaca.
6. Mengedit
naskah kasar.
Pada
langkah ini adalah mengembangkan dari naskah besar, garis besar dan sub-sub
judul yang sudah dibuat dengan tetap mengingat seluruh deskripsi yang akan
dibuat.
7. Menuliskan
pengantar dan kesimpulan.
Langkah
ini dibuat setelah deskripsi itu telah mempunyai bentuk kuat.
8. Menuliskan
kembali tulisan mengenai contoh-contoh.
Contoh
menjadi penting dalam komunikasi karena meliputi tulisan pada tahapan abstraksi
yang paling rendah.
9. Menulis
naskah akhir.
No comments:
Post a Comment