Tuesday, April 19, 2016

Tugas UTS Mata “Kuliah Studi Feminisme”



Studi Kasus Perempuan Bersifat Maskulin,Perempuan Inferior dan Laki-Laki Superior


            Kaum perempuan menjadi hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Dimana perempuan masih saja menjadi bahan yang ringan untuk diperbicarakan. Hal ini pun pasti akan terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang mana pasti adanya tindakan superiortas dari laki-laki dan perempuan yang akan jadi sasaran inferior yang kadang malah tidak dirasakannya. Bagaimana sudah terlihat manusia tercipta hanya menjadi dua jenis saja, yakni perempuan dan laki-laki. Nah,.. pada kajian kali ini akan membahas tentang bagaimana perempuan dan laki-laki dilihat dalam studi Feminisme. Ada tiga penjelasan yang akan menjadi isi dalam tulisan ini, yaitu perempuan maskulin, perempuan inferior, dan laki-laki superior. Ketiga penjelasan ini saya dapatkan dari pembicaraan saya kepada tiga sumber yang bernama Melati, Jini, dan Jono (maaf nama saya samarkan).
Yang pertama kepada seorang perempuan yang memiliki sifat-sifat laki-laki, tapi dalam hal ini lebih codong dengan mana tomboy. Kita sudah tahu sendiri bagaimana pada umumnya seorang perempuan pasti akan mendapatkan sebuah perlakuan orang tunya untuk belajar feminin. Perempuan  harus berlaku sopan, berpakaian dengan anggun layaknya perempuan yang lainnya. Pada perempuan ini dia saya sebut dengan nama Melati, yang saya ajak ngobrol atau lebih tepatnya wawancara dengan pembahasan yang kepada hal-hal maskulin yang menjadi studi disini. Melati ini adalah seorang perempuan yang berada dalam keluarga yang bisa dikatakan kelas menengah ke bawah. Dia anak nomer tiga dari empat bersaudara dan sejak kecil dia memerima didikan keluarga yang baik. Tetapi dalam ksehariannya sesekali si Melati ini dipakaikan atau di dandanin dengan pakaian laki-laki. Pernah juga dia menuturkan bahwa pernah juga dipakaikan baju koko yang seharusnya digunakan oleh laki-laki. Perlakuan tersebut ia dapatkan sejak masih kecil dan berimbas pada sekarang. Orang tua si Melati ini tidak memberikan sepenuhnya atau melakukan fasion yang harus berpenampilan feminin. Pada puncak rasa tomboy itu pun berada pada semasa ia sekolah SMK. Tidak hanya itu saja, dari penuturan si Melati bahwasanya ia juga lebih condong bersosialisasi dengan teman-teman laki-laki. Hal ini terjadi semasa masih dalam lingkungan sekolah atau pun lingkungan rumah. Dalam lambat launnya kira-kira si Melati ini mulai masuk dalam ranah perkuliahan, gaya berpakaian yang digunakannya tak lagi sperti laki-laki, tapi semakin ke busana yang feminin. Tetapi yang ditampakkan hanyalah busananya saja,untuk sifat-sifatnya masih terdapat sifat laki-laki yang mungkin membentuk kepribadiannya sejak kecil.
Dari apa yang saya tangkap tentang hasil bicara saya dengan si Melati ini. Mungkin perilaku dan beberapa hal yang sudah dijelaskan diatas lebih kepada teori Androgini. Dimana teori ini dijelaskan lebih kepada penunjukan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin. Hal ini berarti adanya percampuran dari ciri-cir maskulin dan feminn, baik dalam pengertian gaya fashionnya atau keseimbangan anima dan animus dalam teori psikoanalitis. Dalam arti lain pun sepengatahuan saya adalah orang yang tidak bisa sepenuhnya cocok dengan peranan maskulin dan feminin yang di sandarkan oleh masyarakat.
Yang kedua ini adalah kepada seorang kekasih yang juga teman saya sendiri, yang mana saya beri nama Jini dan Jono meskipun pada saat ini mereka sudah berpisah. Disini saya akan memberikan sedikit juga dari hasil analisa saya setelah melakukan wawancara dengan orangnya. Awal mula saya mewawancarai pada Jini yang menurut saya mengalami inferior yang dialaminya atas perlakuan pacarnya. Jono dan Jini ini memulai hubungannya sejak pertama Si Jini masuk pertama kuliah. Keadaan awal hubungan memanglah seperti sebuah bunga yang sedang mekarnya, tetapi lambat laun hubungan itu semakin tidak lagi seperti yang diharapkan. Seiring berjalannya waktu setelah hubungan Jini ini berjalan kira-kira beberapa bulan, si Jini mulai mengalami keadaan yang disebut inferior. Hal itu terjadi karena Jini merasakan adanya sebuah tekanan kepada dirinya dari Jono yang sebagai seorang kekasihnya. Adanya sebuah harapan yang diberikan Jono kepada Jini yang berdalih untuk membuat Jini semakin berfikiran dewasa dengan adanya sebuah ancaman yang diterima Jini. Ancaman tersebut berupa sebuah keputasan untuk mengakhiri hubungan pacaran tersebut, bila seandainya harapan itu tidak terpenuhi. Disisi lain Jini melakukan upaya untuk menghilangkan tekanan itu dengan cara melakukan pembicaraan pribadi antara mereka berdua. Si Jini juga sempatnya melakukan upaya dengan cara mengikuti keinginan si Jono, tetapi apalah daya Jini tersebut yang tetap dianggapnya masih merasa kekanak-kanakan dengan rasa egois Jono. Tentunya pada akhirnya kejadian yang mungkin tidak diharapkan itu pun terjadi, yakni berakhirnya hubungan tersebut. Inferior mungkin jelas didapatkan oleh Jini atas perlakuan Jono ini, tapi pertama kali mungkin opresi pasti akan dirasakan oleh Jini. Tetapi selama beberapa hari berikutnya dan terus bertambah hari demi hari opresi yang dirasakan oleh Jini mulai memudar meskipun masih adanya sebuah kenangan yang mana kadang-kadang mengingatkannya.
Untuk selanjutnya pada Jono yang menjadi pasangan laki-lakinya, yang mama menurut saya melakukan opresi dan bersifat superior. Tetapi dalam hal ini hanya saja saya belum sempat bisa berbicara langsung dengan orangnya saya sebut Jono ini. Sebenarnya Jono ini masih juga senbagai teman saya, tapi kesulitan dalam bertemu dengannya membuat saya tidak bisa mendapatkan data yang pasti untuk mengetahui sifat superior tersebut. Maka dari itu, mungkin akan saya sampaikan apa yang saya dapatkan sedikit tentang si Jono ini. Hampir sama dengan cerita sedikit Jini tadi, Jono sebagai seorang yang superior memiliki sifat yang agak memaksakan kehendaknya dalam hubungan itu. Dalam hal itu yang mungkin saya anggap dia memiliki sifat yang superior. Tekanan yang diberikan Jono kepada Jini mungkin kebanyakan tidak dirasakan olehnya. Maksud dalam hal ini, Jono atau pun laki-laki lain akan  beranggapan bahwa tidak merasa melakukan hal tekanan tersebtu. Hal ini tidak memungkinkan saya harus bisa memberikan angapan itu benar, karena kurangnya data analisa yang saya dapatkan.
Sedikit dari hasil analisis yang saya lakukan dengan penyampaian seperti sebuah bahasa keseharian. Tekanan yang didapatkan perempuan kadang kala akan berimbas pada kehidupan yang seterusanya dan begitupub pada laki-laki yang superior. Saya juga meminta maaf kalau seandainya ada beberapa tulisan yang tidak berkenan oleh pembaca dan khususnya narasumber sebagai orang yang saya analisis. Trimakasih,...

Tuesday, April 12, 2016

Tugas Resum Etnografi



Resum buku “ Metode Etnografi”
James P. Spradley
Subbab : langkah dua belas” menulis sebuah etnografi”

Tujuan :
1.      Untuk memahami sifat dasar penulisan etnografi sebagai proses dari penerjemahan.
2.      Untuk mengidentifikasikan tahap-tahap yang berbeda dalam penulisan etnografi.
3.      Untuk mengidentifikasikan langkah-langkah dalam menuliskan sebuah etnografi.
4.      Untuk menulis sebuah etnografi.
Empat poin di atas adalah beberapa tujuan dalam menulis etnografi. Banyak sekali seorang etnografer mendorong dirinya pada suatu kesadaran penuh bahwa suatu sistem makna budaya tertentu harus benar-benar lengkap dalam menulis etnografi. Dalam proses penulisan hitam menemukan suatu sumber pengetahuan yang tersembunyi yang didapatkan selama proses penelitian. Sebagaimana ditegaskan oleh sebagian besar penulis profesional,  satu-satunya jalan untuk belajar menulis adalah dengan menulis. Salah satu jalan terbaik untuk menulis sebuah etnografi adalah dengan membaca etnografi lain. Karena dengan membaca etnografi lain akan membuat tulisan yang anda buat menjadi baik tanpa upaya yang anda sadari. Setiap etnografer bahkan dapat mengidentifikasi buku-buku dan artikel yang merupakan deskripsi budaya yang ditulis dengan baik. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasikan tulisan yang menerjemahkan makna makna suatu budaya asing sehingga seseorang yang tidak mengenal etnografi akan mengetahui makna-makna ini tetapi yang harus diingat oleh penulis bahwa cara untuk belajar menulis sebuah etnografi adalah menulis etnografi.

Proses Penerjemahan
Penerjemahan meliputi keseluruhan proses penemuan makna suatu kebudayaan untuk disampaikan ke orang dalam budaya lain.Seorang etnografer mempunyai tugas ganda dalam hal ini. Pada tugas pertama Anda harus masuk ke dalam suasana budaya yang ingin diketahui, memasuki bahasa dan pemikiran informan, serta menjadikan simbol-simbol dan makna mereka dalam bahasa sendiri. Strategi tersebut menjadi sangat kuat untuk mempelajari bahasa dan budaya lain. Tugas kedua dari penerjemahan etnografis adalah menyampaikan makna budaya yang telah anda ketemukan kepada para pembaca yang tidak mengenal budaya atau suasana budaya itu.Ada tuntutan yang harus dilakukan oleh penerjemah  mengenal dua kebudayaan satu kebudayaan itu dideskripsikan dan kebudayaan yang lain itu dideskripsikan dan kebudayaan yang lain dipegang secara tersirat oleh khalayak yang akan membaca Deskripsi tersebut. Kebanyakan para etnografer yang terampil gagal dalam menyelesaikan karya penerjemahan etnografis itu.  Karena mereka menulis etnografis tanpa ada waktu untuk mempelajari berbagai keahlian dalam komunikasi tertulis. Tanpa memahami kalayaknya,  bahkan tanpa merasakan pentingnya komunikasi dengan cara yang menghidupkan kebudayaan itu.

Beberapa Tahapan Dalam Penulisan Etnografi.
Setiap etnografrer berhadapan dengan berbagai peristiwa kemanusiaan yang paling spesifik konkret dan juga paling umum. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial. Perhatian dalam hal-hal khusus  ada hubungannya dengan suatu pemahaman terhadap suatu etnografer sesuatu yang umum. Tetapi ketika prinsip ini dimasukkan seluruhnya ke dalam pelaksanaan etnografi maka akan menciptakan parodi proses penerjemahan. Dalam penulisan sebuah sebuah etnografi sebagai sebuah penerjemahan. Perhatian terhadap hal yang umum ada hubungannya dengan pemahaman mengenai hal yang khusus. Agar pembaca melihat kehidupan orang-orang yang dipelajari seperti mereka melihat diri mereka sendiri. Terdapat enam tahapan yang berbeda yang dapat diidentifikasi ketika bergerak dari hal umum ke khusus.
Ø  Tahap Satu : Statemen-Statemen Universal.
Statemen ini meliputi semua statemen mengenai umat manusia. Tingkah laku mereka kebudayaan mereka atau situasi lingkungan mereka. Statemen ini adalah statemen –statemen yang mencakup semua.
Ø  Tahap Kedua : Statemen-Statemen Deskriptif Lintas Budaya.
Tahapan abstraksi kedua meliputi statemen-statemen mengenai dua masyarakat atau lebih. Statemen dalam tahap abstraksi ini meliputi berbagai penegasan yang luas menurut beberapa masyarakat tetapi tidak harus untuk semua masyakat. Statemen deskriptif lintas budaya membantu dalam menempatkan suatu suasana budaya dalam gambaran budaya manusia lebih luas.
Ø  Tahap Ketiga: Statemen Umum Mengenai Suatu Masyarakat Atau  Kelompok Budaya.
Jenis statemen ini tampak spesifik tetapi sebenarnya masih sangat umum yang dimaksud spesifik yakni lebih spesifik dalam salah satu budaya atau  kelompok.
Ø  Tahap Keempat : Statemen Umum Mengenai Suatu Susunan Budaya Yang Spesifik
Ketika kita menuliskan suatu tahapan abstraksi kita mencatat banyak statemen mengenai budaya. Tetapi walaupun statemen itu merujuk pada suasana atau kelompok yang spesifik tetapi sifatnya masih umum.
Ø  Tahap Kelima : Statemen Spesifik Mengenai Sebuah Domain Budaya.
Pada tahap ini etnografer mulai menggunakan berbagai istilah asli informan dan berbagai  kontras spesifik yang didapat dari informan.
Ø  Tahap Keenam : Statemen Insiden Spesifik.
            Tahapan enam ini mengantarkan pembaca segera pada tahap aktual tingkah laku dan objek tahap pemahaman berbagai hal itu.
Penulisan etnografis memuat statemen-statemen pada enam tahapan dari yang umum ke yang khusus, tapi dalam pengerjaannya dengan suatu proporsi tertentu. Jurnal-jurnal profesional yang didalamnya penulis terutama menulis untuk rekan seprofesinya. Cenderung berisi statemen pada tahap satu dan dua. Beberapa tulisan etnografis yang lain, baik yang berbentuk artikel makalah atau buku. Menggunakan gaya formal dengan memakai tahap tiga dan empat. Disertasi dan tesis kebanyakan ditulis pada tahap ini. Walaupun dalam hal itu juga banyak informasi pada tahap lima. Tulisan dalam bentuk ini cenderung menyajikan tulang yang terbuka, yang tidak dibungkus contoh dan peristiwa pada tahap enam. Di lain pihak beberapa novel etnografis dan tulisan pribadi yang bersifat etnografis penuh berisikan statemen tahap enam dengan beberapa statemen tahap lima. Jelas pula bahwa pencampuran berbagai tahap dalam suatu proposisi yang dikehendaki tergantung pada tujuan etnografer. Maka dari itu masing-masing etnografer harus menentukan khalayak yang dituju karena penelitian etnografis mempunyai nilai penting bagi semua orang dan oleh karena itu etnografer harus menulis untuk mereka yang berada di luar dunia akademik.

LANGKAH LANGKAH MENULIS ETNOGRAFI.
            Langkah menulis dalam hal ini menekankan pada metode alur penelitian maju bertahap dalam penelitian merupakan pemecahan sebuah tugas besar menjadi tugas-tugas yang lebih unik dan membuat tugas ini sebagai suatu unit yang akan menyederhanakan pekerjaan itu serta memperbaiki kinerja seseorang.
Langkah-langkah tersebut adalah :
1.      Memilih khalayak.
Penulis perlu memilih khalayak dan mengidentifikasikannya secara jelas dan selama penulis terus mengingat siapa khalayak itu. Ini menjadi lengkap pertama yang harus dilakukan etnografer.
2.      Memilih tesis.
Tesis adalah sebuah pesan utama yang mana merupakan suatu yang ingin anda buat. Ada beberap sumber untuk menemukan sebuah tesis.
a.       Tema-tema besar yang telah anda temukan dalam penelitian etnografis merupakan tesis-tesis yang mungkin.
b.      Sebuah tesis untuk etnografis anda mungkin berasal dari seluruh tujuan etnografi.
c.       Sebuah tesis dapat berasal dari literatur ilmu-ilmu sosial. Ketika tesis dipilih sangat baik jika ditegaskan secara singkat mungkin dalam satu kalimat tunggal dan tempatkan tesis itu dihadapan anda sebagai pengingat ketika menulis.
3.      Membuat sebuah daftar topik dan membuat sebuah garis besar langkah.
Tiga melibatkan peninjauan kembali catatan-catatan lapangan. Serta inventaris budaya yang telah dibuat dan juga daftar topik yang dianggap harus di masukkan ke dalam deskripsi akhir.
4.      Menulis naskah kasar untuk masing-masing bagian.
Sebuah naskah kasar dimaksudkan untuk sebuah naskah yang masih kasar belum selesai dan belum dipoles. Menulislah seperti anda berbicara merupakan aturan yang sangat baik untuk diikuti dalam menyusun sebuah naskah kasar untuk masing-masing bagian.
5.      Merevisi garis besar dan membuat anak judul.
Jika naskah kasar telah selesai dibuat untuk masing-masing bagian, baik sekali untuk membuat sebuah garis baru. Yakni mungkin menggunakan sub-sub judul untuk memberikan petunjuk kepada pembaca.
6.      Mengedit naskah kasar.
Pada langkah ini adalah mengembangkan dari naskah besar, garis besar dan sub-sub judul yang sudah dibuat dengan tetap mengingat seluruh deskripsi yang akan dibuat.
7.      Menuliskan pengantar dan kesimpulan.
Langkah ini dibuat setelah deskripsi itu telah mempunyai bentuk kuat.
8.      Menuliskan kembali tulisan mengenai contoh-contoh.
Contoh menjadi penting dalam komunikasi karena meliputi tulisan pada tahapan abstraksi yang paling rendah.
9.      Menulis naskah akhir.
Dalam beberapa kasus tahapan ini hanya meliputi pekerjaan pengetikan tulisan diatas kertas atau menyuruh orang lain untuk pengetikan itu.

Thursday, April 7, 2016

Aku dan Motor


Motor menjadi salah satu aset kendaraan yang begtiu mayoritas dikalangan masyarakat. Kendaraan ini mungkin bisa dikatakan transportasi yang praktis, bahkan pada setiap rumah pasti memiliki satu motor atau lebih. Tidak juga memerlukan waktu yang lama, karena mampu melewati jalan-jalan yang sempit seperti gang dan lainnya. Bahkan bisa kita lihat sendiri bagaimana banyaknya orang Indonesia yang menggunakan motor. Indonesia sendiri menjadi pengguna dan konsumen terbanyak dalam transportasi ini, terkhususnya pun pada Pulau Jawa yang sudah mencapai 50% lebih dari presentase seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana kendaraan tersebut akan menimbulkan kemancetan disetiap sudut kota.
Banyak sekali orang yang menggunakan motore untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti halnya untuk berangkat kerja, para siswa yang menggunakannya untuk berangkat sekolah, bahkan anak-anak kecil sekarang pun sudah banyak yang bisa berkendara sepeda motor. Beberapa hal yang masih saya sayangkan banyak sekali anak-anak yang masih tergolong bersekolah di SD sudah bisa berkendara motor dengan leluasa. Ketidaktahuan orang tua dalam mendidik anak dan membiarkan membiarkan anak mengendarai motor dijalan raya dengan bebas yang akan menimbulkan hal yang suatu saat bisa terjadi. Anak belajar motor dengan bebas, malah kadang kala orang ada yang mendukung dengan mengajari anaknya belajar bersepeda motor.
Mengingat tentang belajar untuk mengendarai sepeda motor, ada beberapa peristiwa tatkala saya pertama kalinya belajar mengendarai motor. Ketika saat itu, dimana saya belajar bermotor membuatku merasa bodoh dan tersenyum sendiri membayangkan saat motor itu melaju, bagaimana saya terjatuh dan sok menjadi pembalap seperti Valentino Rossi (dia penggemarku di Moto GP). Tetapi dulu waktu saya belajar motor tidak pada jenjang umur anak-anak SD, melainkan sudah menginjak SMP dan itupun pada akhir kelas 2.
Keinginan saya untuk belajar motor sebenarnya sudah sangat lama dan itupun ibuku sudah memberikan lampu hijau memperbolehkan untuk berkendara sendiri. Tapi keinginan itu agak terkendala karena keberadaanku yang pada saat itu belajar menuntut ilmu di lingkungan pondok pesantren. Akhirnya pada saat di pondok saya hanya berangan-angan mempelajari bagaimana teori mengendarai motor dan menunggu kapan saya pulang kerumah serta memulai belajar motor. Saat yang ditunggu pun datang, ketika pada saat bulan sebelum semester genap, akhirnya saya bisa pulang, meskipun itu hanya dua hari saja. Motor Supra X 125 yang menjadi kendaraan ibuku kemana-mana adalah kendaraan yang saya pakai untuk belajar berkendara. Tetapi karena waktu dulu saya masih agak menjinjitkan kaki ketika menaiki motor tersebut. Akhirnya motor Grand Astra milik paman yang pada saat itu berkunjung ke rumahku. Karena motor tesebut lebih pendek setelah ada modifikasi yang dilakukan oleh paman.
Belajar pun aku mulai, motor aku tuntun menuju pelataran jalan depan rumahku dan langsung menyalakan mesin motor. Intruksi pun tak lupa diberikan oleh ibuku yang pada saat itu sedang bersantar duduk di kursi emperan depan rumah. Ibuku menyuruh untuk memasukkan presneling gigi motor ke urutan pertama dan menarik gas motor secara perlahan demi perlahan. Deru suara motor mulai meninggi, roda pun mulai berputar dan semakin melajunya motor kedepan beranjak dari tempatnya semula. Belum juga motor tersebut melaju sampai lima meter, keseimbanganku agak tergoyahkan dan membuatku harus berhenti mendadak. Akhirnya aku mengulangi lagi dengan tenang serta kembali menarik gas motor secara perlahan-lahan. Motor bebek itu pun melaju dengan perlahan dan disertai suara motor yang semakin menderu tatkala gas motor aku tarik. Maklum saja aku masih belum begitu berani untuk menambah presneling gigi kedua agar lebih melaju dengan kencang. Tikungan pun aku lalui sampai pada ujung jalan dekat sungai arah barat dari rumahku. Dari situ aku memutar motor dan kembali lagi melaju menuju rumah hampir  beberapa kali putaran bolak-balik. Setelah agak puas, motor pun aku parkirkan di depan rumah dengan wajah sumringah karena aku sudah bisa menaiki motor, meski dengan car otodidak pula.
Pada hari berikutnya sebelum saya kembali ke pondok disore harinya, si motor bebek hitam Supra X 125 menjadi tungganganku untuk belajar dihari kedua ini. Meski tetap agak berjinjit, motor supra tersebut saya stater, masuk ke gigi satu, dan  meluncur hari kemaren. Jalur yang berbeda menjadi pacuan saya untuk belajar bermotor, yakni jalan lurus disamping sungai yang berlebar sekitar 3 meter dan panjang kurang lebih 200 meter. Masih saja dengan suara motor menderu bergigi satu, serta berbolak-balik dari ujung jalan utara sampai selatan. Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menambahgigi presneling ke urutan kedua, meskipun masih keliatan kaku. Tak lama pun, saya kembali pulang dan mempersiapkan diri lagi untuk kembali ke pondok pesantren. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena harus menghentikan belajar berkendara saya. Tetapi kekecewaan tersebut sedikit terobati karena setelah ujian semester akan kembali pulang untuk liburan. Disini emang apa yang saya alami memang secara otodidak, belajar mengendarai motor tanpa ada yang mendampingi.
Semester genap sudah berlalu dan liburan semester semakin dekat untuk saya dan teman-teman santri lainnya untuk pulang. Kesempatan ini pun pasti akan saya manfaatkan untuk kembali belajar berkendara motor lagi. Beberapa hari berikut saya pun tetap dengan menunggangi motor bebek hitam dengan jalur yang tetap pula, yakni jalan di samping sungai tadi. Tetap juga berbolak-balik bagaikan sedang menyetrika baju, tapi disini saya lebih menjajal dalam rute yang lain. Jalan di persawahan dan jalan samping rumah-rumah tetanggaku menjadi rute pembelajaranku. Kadang kala saya merasa bak seorang pembalap profesional yang sedang melaju kencang di sirkuit medan laga balap. Tetapi disini saya berkecepatan yang masih tetap melaju dengan kecepatan yang rendah saja.
Nah,.. Ada hal yang lucu dan membuat saya sangat malu disaat saya belajar motor di jalan persawahan. Saat itu dengan rute yang sama pada jalan persawahan, dekat dengan sawah milik kakek saya. Ada beberapa orang yang sedang memompa air dengan mesin diesel, dan itu pun ternyata sebagian adalah tetangga saya sendiri. Pada saat itu ada banyak air yang keluar dan mengalir dijalan yang akan saya lewatin. Saya berhenti sejenak sebelum melewati genangan air tersebut. Ada salah satu orang yang memberikan arahan untuk melewati jalan pas ditengahnya. Perasaan saya menjadi agak was-was ketika mau melewati genangan yang lumayan cukup panjang. Akhirnya dengan pelan-pelan saya menjalankan motor saya dan saya malah lebih memilih untuk melewati jalan yang berada di samping. Dengan pelan- pelan motor pun semakin meleweti genangan tersebut, tetapi hampir saja genengan itu saya lalui, tanpa saya ketahui ban sepeda depan sepeda motor sedikit terpeleset. Gubrak,.. byurrr,... sawah yang ada dipinggir jalan, yang mana baru saja ditanamin, menjadi tempat mendaratku yang empuk. Aku terjatuh mendarat dilumpur sawah dengan posisi seperti orang yang sedang merangkak, untungnya saja baju yang saya kenakan tidak terlalu terkena lumpur. Orang-orang yang ada disekitar situ langsung spontan menolong saya dan dengan sedikit tertawa dengan ulah saya yang terjadi itu. Dengan muka agak sedikit malu karena menjadi bahan tertawaan orang-orang disitu. Motorku banyak terkena lumpur dan langsung dibersihkan oleh tetangga saya yang mendirikan motor saya yang terguling tadi. Padi-padi yang ambruk tertimpa olehku langsung dibenahi dan ditata kembali. Dengan perasaan yang masih malu motor aku nyalakan dan langsung pergi melalui jalan yang memutar. Melihat motor ku yang masih kotor, serta ada sedikit rasa takut jikalau nanti sampai rumah lansung dimarahi oleh ibu saya. Sebelum sampai rumah, tepatnya di sungai yang biasa jalan disampingnya menjadi tempatku berlatih. Motor langsung aku turunkan ke sungai dan langsung ku bilas bagian-bagian yang kotor. Setelah bersih, aku langsung pulang dengan perasaan yang begitu was-was.
Sampai rumah ibu saya agak terheran, karena sesampainya di rumah motor dalam keadaan basah dan tentunya bersih. Ibu pun bertanya kepadaku “motornya kok jadi bersih, baru saja kok cuci tha,..” begitu ujarnya. Aku pun langsung menjawabnya “iya,.. tak cuci nek sungai”. Dengan masih menunggu apa yang akan dijawab ibu, dan ternyata ibu hanya berguman saja. Aku pun merasa tenang karena ibu tidak tahu apa yang baru saja terjadi dengan diriku, tetapi saya tidak tahu kalo mungkin ibu saya tahu juga dari penuturan orang yang ada ditempat kejadian perkara. Sampai sekarang pun saya masih mengangan-angan apakah ibu saya mengetahui kejadian itu. Dan dari kejadian itu saya sekarang lebih hati-hati apabila mengendarai motor.

Waktu pun terus berlalu dan pada sampai saya kuliah kendaraan dirumah saya bertambah satu, yang mana menjadi kendaraanku untuk kuliah. Motor itu saya juluki “Si Merah Putih” yakni Merah adalah motor Vario 125 merah dan helm putih INK. Motor dan helm tersebut yang selalu menemani saya kemana-mana, dari travelling, main ke rumah temen, kuliah, menghadiri acra, dan lainya. Itu tentang pengalaman saya diwaktu dulu, mungkin sedikit agak lucu atau mungkin menghibur. Tetapi emang itu adalah kenyataan yang saya alami dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman yang ingin belajar, meskipun harus jatuh dan menahan malu.

Tuesday, April 5, 2016

FEMINISME PSIKOANALISIS



Sedikit akan saya jelaskan tentang salah satu aliran dalam feminisme yakni Feminisme Psikoanalisis. Teori psikoanalisis pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Menurut Freud, anak-anak mengalami tahapan perkembangan psikoseksual yang jelas dan gender dari setiap orang dewasa adalah hasil dari bagaimana ia mengatasi tahapan ini. Maskulinitas dan femininitas, dengan perkataan lain, adalah produk dari pendewasaan seksual. Dalam buku Three Contributions to the Theory of Sexuality, Freud mendiskusikan tahapan seksual pada masa bayi. Freud berargumentasi bahwa anak-anak sama sekali bukan manusia tanpa ketertarikan seksual. Ia mengklaim bahwa seksualitas anak-anak adalah “penyimpangan polimorfus”, bagi anak-anak, keseluruhan tubuh mereka, terutama lubang-lubang di dalam tubuhnya dan anggota tubuhnya, adalah ranah seksual. Anak-anak berkembang dari tipe seksualitas “yang menyimpang” menjadi seksualitas genital heteroseksual yang “normal” melalui beberapa tahapan, yaitu pertama tahap oral, tahap ini segala kesenangan terpusat pada mulut, terjadi sepanjang tahun pertama bayi. Seperti bayi menghisap payudara ibunya dan juga menghisap jari tangannya sendiri. Kedua tahap anal, pada tahap ini kenikmatan yang memperoleh adalah kenikmatan berasal dari sekitar dubur dan terjadi pada anak berusia 2-3 tahun, seperti halnya anak yang sedang megeluarkan kotoran. Ketiga tahap falik, pada tahapan ini seorang anak memperoleh kenikmatan pada alat genitalnya atau alat kelaminnya dan kemudian menyelesaikan atau pun gagal dalam menyelesaikan apa yang disebut komplek Oedipus dan kastrasi. Tahap ini terjadi pada anak yang berusia 3-4 tahun. Keempat, tahap laten, pada tahapan ini dimulai pada anak yang suadah berusia enam tahun, pada tahap ini kecenderungan erotis lebih ditekan sampai pada masa pubertas. Kelima, tahap genital, terjadi pada seorang anak yang sudah beranjak pada masa remaja yang ditandai dengan adanya kebangkitan kembali dorongan seksual yang telah ditekan pada masa tahap latensi. Jika semua berlaku secara normal pada tahapan ini, libido remaja akan diarahkan keluar, menjauh dari stimulasi otoerotis dan homoerotis, menuju kepada anggota jenis kelamin yang lain.
Lanjutan kritis dari drama psikoseksual yang ditekankan oleh Freud adalah penyelesaian anak atas apa yang disebut dengan komplek Oedipus dan kastrasi. Menurut doktrin psikoanalisis, bahwa seorang laki-laki mempunyai penis dan perempuan tidak mempunyai penis, disini mempengaruhi cara perempuan dan laki-laki menyelesaikan kompleks Oedipus pada tahapan falik. Komplek Oedipus pada anak laki-laki berasal dari kedekatan yang alamiahnya dengan ibunya, karena selama dia kecil ibunyalah yang merawatnya. Oleh karena itu, anak laki-laki ingin memiliki ibunya untuk berhubungan seksual dan menjadikan ayahnya pesaing untuk mendapatkan perhatian ibunya. Kebencian yang timbul pada anak laki-laki terhadap ayahnya terbisukan oleh cintanya kepada ibu yang bersamaan pada ayahnya, yang manaanak laki-laki tersebut ingin memiliki dan mendapatkannya dari ayahnya. Setelah anak laki-laki melihat ibunya dan jua melihat perempuan lain telanjang, anak laki-laki tersebut berspekulasi bahwa makhluk-makhluk tanpa penis ini pasti telah mengalami sebuah kastrasi yang dilakukan oleh ayahnya. Merasa adanya gangguan akan pikiran itu, anak laki-laki tersebut merasa takut kepada ayahnya bahwa ayahnya akan mengkastrasinya jika ia tetap berani mewujudkan hasratnya untuk memiliki ibunya. Ketakutan ini menyebabkan anak laki-laki mematikan rasa cinta terhadap ibunya yang akan mendorongnya ke dalam tahap latensi seksual dan akan muncul kembali setelah mengalami masa pubertas.
Sedangkan pengalaman perempuan atas kompleks Oedipus dan kastrasi samasekali berbeda dengan yang dialami oleh laki-laki. Seperti anak laki-laki, objek cinta pertama perempuan tertuju pada ibunya. Namun tidak seperti laki-laki yang hasrat cintanya selalu tertuju pada perempuan sepanjang hidupnya, anak perempuan harus mengalihkan hasratnya dari perempuan kepada laki-laki. ketika ia menyadarai bahwa ia tidak memiliki penis dan terkastrasi, mereka akan memperhatikan penis dari seorang laki-laki entah saudara atau teman, yang secara jelas terlihat dan kemudian segera menyadarinya dan menjadi lawan dari organ mereka dan sejak saat itu mereka menjadi korban kecemburuan terhadap penis. Karena terus-menerus memikirkan kekurangannya, anak perempuan juga akan menyadari bahwa ternyata ibunya tidak mempunyai penis. Maka dari itu ia kemudian merasa jijik terhadap ibunya dan berpaling kepada ayahnya untuk memperbaiki kekurangannya.
Kecemburuan terhadap penis dan penjelasan gagasan mengenai itu, serta gambaran yang tidak mengenakkan oleh teori Freud, banyak kalangan feminis yang merasa gusar dan tidak terima atas proposisi yang diajukan oleh Freud. Para feminis yang mengkritik teori Freud yang tradisional,misalnya Betty Friedan dan Sulamith Firestone. Mereka berargumentasi bahwa ketidakberdayaan perempuan terhadap laki-laki kecil hubungannya dengan perbedaan biologis perempuan, melainkan erat hubungannya dengan konstruksi sosial atas feminitas.Menurut Betty Friedan, gagasan Freud dibentuk oleh kebudayaan yang digambarkankannya sebagai “Victorian”.Hal yang paling mengganggu Friedan adalah apa yang dianggap sebagai gagasan Freud atas determinisme biologis yang kecenderungan seksual perempuan ditentukan oleh ketidakadaan penis pada perempuan, dan setiap perempuan yang tidak mengikuti jalan yang ditentukan alam disebut sebagai perempuan yang “tidak normal”. Serta pula adanya dorongan perempuan untuk beranggapan bahwa ketidaknyamanan dan ketidakpuasan berasal dari ketidakadaan penis saja, dan bukannya status sosial ekonomi dan budaya yang menguntungkan diberikan kepada laki-laki. Oleh karena itu, Friedan menyalahkan Freud yang telah menjadikan pengalaman seksual yang sangat spesifik yang oleh Friedan disebut sebagai “vaginalisme” sebagi keseluruhan dan akhir daripada eksistensi perempuan.Berbeda dengan Shulamith Firestone yang lebih menyalahkan terapis neo-Freudian yang mengklaim pasifitas seksual perempuan bukanlah suatu yang alamiah, melainkan semata-mata hasil sosial dari kebergantungan fisik, ekonomi, dan  emosional perempuan pada laki-laki. Menurut Firestone, terapis neo-Freudian seharusnya mendorong perempuan dan anak-anak untuk melawannya, karena seharusnya mereka melawan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dan anak-anak di dalam sebuah penjara keluarga. Maka dari itu Firestone semakin yakin bahwa seharusnya manusia menghapuskan keluarga inti. Karena jika anak diperbolehkan untuk menggabungkan perasaan seksual dan sayang bagi orangtuanya, maka dinamika kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, serta orang tua dan anak-anak akan berubah.

Apa Itu Santri ???

22 Oktober menjadi salah satu tanggal dalam pengkalenderan masehi, yang mana dijadikan sebagai peringatan “Hari Santri Nasioanal”. Mung...