Friday, March 11, 2016

Problematika Menulis Bagiku

Menulis... Kata yang tak asing lagi oleh setiap orang, dari yang masih anak-anak sampai dewasa bahkan usia lanjut. Semenjak kecil kita sudah dilatih untuk menulis, itupun yang aku ingat sewaktu masih mengenyam pendidikan ditaman kanak-kanak. Pada saat tersebut ibu guru akan berkata; “ anak-anak hari ini kita akan belajar menulis ya,...” dan pada seketika itu para murid pasti akan mengeluarkan pensil dan bukunya. Nah,.. Kedua hal tersebut yang tidak akan terlepas dalam hal kepenulisan. Pensil dan buku atau pun kertas akan menjadi pelengkap awal dalam kita menulis, berbeda dengan masa sekarang.

Menulis pada sekarang tak selalu masih menggunakan pensil dan buku, mesipun keduanya sampai sekarang tetap digunakan. Kemajuan zaman yang semakin mempercanggih alat-alat tersebut, mempermudah setiap orang untuk menulis. Dari yang bermula pensil menjadi pena, trus bertambah lagi ada spidol dan lainnya. Tapi dalam kemajuan zaman yang yang tak lepas juga dari teknologi yang semakin mendominasi, menulis tak selalu terus menggunakan alat seperti itu. Handphone, tab, komputer, leptop, menjadi alat untuk menulis secara cepat dan mudah tersimpan dengan baik pula. Bisa kita lihat sendiri bagaimana kita dipermudah dalam melakukan rutinitas menulis ini.

Oke,.. Kembali ketopik awal kita tentang menulis. Terkadang banyak sekali orang yang tidak bisa menulis atau kadang berkata “ aku nggak bisa menulis”, tapi nyatanya dia tetap bisa menuliskan. Menulis itu bukan harus seseorang yang ahli atau tidak dalam menulis. Yang terpenting itu dia mau memegang pulpen dan kertas atau berada di depan leptop dan menulislah. Nah,.. Satu kata yang terakhir itulah yang mengingatkan saya pada salah satu dosen pengampu yang selalu meberikan semangat mahasiswanya untuk menulis. Beliau berujar; “menulis itu tidak sulit, kalian bisa menulis apapun dimana pun dan memakai bahsa apapun, yang penting kalian bisa memulai menulis”. Dari itu saya merasa dipermudah untuk bisa memcoba menulis, meskipun dengan bahasa keseharian saya sendiri.

Sedari awal memang ada keinginan saya untuk menulis. Memberikan argumen-argumen dalam sebuah tulisan, mengisi sebuah buletin dan mungkin nantinya akan dimuat di koran (itu harapannya). Tapi itu ya...masih tetap aja khayalan saja dan hanya bisa terdiam tak menyegera melakukannya. Terkadang rasa malas yang membuat saya sulit untuk mengikuti keinginan saya dala literasi menulis. Pernah juga ketika sudah berada di depan leptop dan siap untuk menulis, akan tetapi tiba-tiba hilang apa yang sebelumnya jadi angan-angan yang ajan saya tulis. Mungkin bukan saya saja, teman-teman yang lainnya pun pasti ada yang merasakannya pula.

Sebenarnya pun saya sendiri diajarin untuk menulis itu sudah saya rasakan diwaktu masa pendidikan SMA. Disini ibu guru Bahasa Indonesia terkadang memberikan tugas kepada murud-muridnya untuk membuat tulisan. Banyak tulisan-tulisan yang menjadi tugas kami dimasa itu, seperti halnya membuat pantun, puisi, menulis naskah drama, membuat cerpen pendek, dan ada pula membuat berita pendek. Tetapi apa yang emnjadi pikiran saya saat ini, menulis pada masa itu adanya paksaan untuk memenuhi tugas dan mendapatkan nilai. Pernah juga oleh teman saya untuk mengisi mading kelas, ya karena bingun apa yang mau saya berikan, akhirnya pantun oun menjadi solusi tulisan di mading itu.

Beranjak kejenjang perkuliahan, menulis menjadi hal yang tak bisa terlepas dari seorang mahasiswa. Banyak sekali yang dilakukan mahasiswa yang dalam hal ini selalu bisa dikaitkan dengan menulis. Bahkan bagi jurusan matematika dan ekonomi pun yang berkecimpung dengan angka dan perhitungan, tetap saja akan bertemu juga denga menulis. Apa lagi dengan jurusan saya sendiri yang benar harus adanya sebuah kosentrasi dalam hal kepenulisan. Semisal membuat makalah yang pastinya akan dilakukan oleh setiap mahasiswa, membuat proposal, membuat jurnal, dan bahkan pada ujian akhir sekripsi.

Tetapi dalam hal ini menulis yang masi dalam lingkup kecil atau mungkin bukan karena mengikuti anjuran tugas. Kadang sebersit keinginan untuk menjadi seorang penulis yang mana bisa mengespresikan kihidupan atau pikirannya dengan tulisan. Melihat banyak sekali tokoh-tokoh yanf terkenal oleh tulisannya, semisal RA. Kartini yang terkenal dengan bukunya Habis Terang Terbitlah Terang, ada lagi Sujiwo Tejo yang terkenal akan tulisan-tulisannya di koran, Habiburahman Al Shirazy dengan novel-novel karya tulisannya, Chairil Anwar yang disebut sebagai seorang penyair terkenal di Indonesia dan masih banyak yang lainnya.

Bahkan dalam hal kepenulisan itu bisa menjadikan kita artis dan juga untuk menghasilkan uang pula. Hal ini saya dapatkan dalam salah satu perkuliahan yang disampaikan oleh salah satu dosen mata kuliah saya. Menjadi artis dengan menulis dalam hal ini bukan trus menjadi artis sinetron atau film FTV. Tetapi lebih pada bisa membuat diri kita sendiri terkenal, seperti kita menulis di koran , majalah, dan lainnya. Dari apa yang kita tulis dan disukai oleh orang lain, serta terus diminati oleh pembaca, maka dari itulah kita akan menjadi terkenal. Disisi lain, menulis bisa menguntungkan atau bisa untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Dalam hal ini kebanyakan dialami oleh para mahasiswa, yang mana dengan menulis diserahkan kepihak tertentu dan mahasiswa tersebut akan mendapatkan royalti untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya.

Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita dapatkan jikalau kita bisa konsentrasi dalam hal kepenulisan. Dalam pendapat saya bisa juga dibilang kepenulisan ini menjadi fashion kita. Tetapi tetap saja hal tersebut tidak akan terwujud secara langsung, semua hal pastinya harus dimulai dari awal dahulu. Bagaimana kita bisa membiasakan untuk tetap memberikan tulisan-tulisan kita tetap bagus dan lainnya. Banyak cara untuk melatih diri kita untuk menulis, meskipun lingkupnya kecil saja.

Bisa kita lihat sediri bagaimana didunuia maya atau dalam internet. Banyak orang-orang yang memanfaatkan hal tersebut untuk memposting hasil tulisan-tulisannya. Media sosial yang biasanya menjadi sarana untuk untuk belajar menulis. Kita bisa lihat twitter, facebook, blog, yang mana bisa kita gunakan untuk belajar kita dalam menulis. Facebook misalnya, yang biasanya kita buat untuk menulis status yang kadang tidak masuk akal, meskipun kadang kala saya juga menulis begitu. Dari facebook sendiri banyak sekali orang-orang dan juga teman-teman saya yang menggunakannya sebagai tempat mereka untuk menulis. Kadang kala saya membaca-baca tulisan mereka dan dari membaca tersebut menimbulkan keinginan pada diri saya untuk ikut menulis juga.

Pada akhirnya saya mulai untuk menulis juga di sosial media facebook tersebut. Entah apa yang saya tulis, tetapi yang penting saya menulis. Kadang kala saya menulis apa yang saya alami pada hari tersebut dan ada juga yang menulis tentang sebuah hari peringatan. Saya akui tulisan yang saya buat tak sebanyak dan sepanajang dari teman-teman saya. Tetapi dari situlah saya terus ingin bisa belajar untuk menulis dan mengistiqomahkan.

Seperti halnya pada pertemuan perkuliahan Penulisan Ilmiah dan Populer ini, yang lebih kepada bagaimana kita harus menulis. Dosen pengampu mata kuliah ini pun juga memberikan tugas untuk menulis secara bebas pada setiap minggunya dan juga langsung diunggah di blog. Hal yang memudahkan saya menulis ini, dikarenakan tidak adanya acuaan bagaimana kita menulis. Jadi saya sendiri pun tidak merasakan sebuah tekanan untuk menulis dengan tema tema yang ditetapkan setiap minggunya. Maka dari itu, ini kesempatan saya untuk mencoba tetap menulis dan juga memperbaiki kepenulisan saya.

2 comments:

  1. Untuk pemula: Yang penting menulis
    Untuk para pakar: Menulis yang penting

    ReplyDelete
  2. hehehe,.. iya Bu,..
    minta dukungannya untuk tetap terus bisa menjadi lebih baik dalam menulis,..
    trimakasih untuk sebelumnya,..

    ReplyDelete

Apa Itu Santri ???

22 Oktober menjadi salah satu tanggal dalam pengkalenderan masehi, yang mana dijadikan sebagai peringatan “Hari Santri Nasioanal”. Mung...